OpiniSuara Mahasiswa

Menakar Masa Depan Generasi di Tengah Erosi Moral

Oleh: Mayang Adekatari*

Ketua Umum HMI Komisariat Yahya Bima Cabang Kabupaten Bima.

(Rinjanipost) – Perbedaan generasi adalah keniscayaan sejarah. Ia lahir dari perubahan zaman, bukan dari pergeseran nilai. Namun yang terjadi hari ini justru sebaliknya: perubahan zaman dijadikan legitimasi untuk mengaburkan batas antara benar dan salah. Atas nama relevansi dan keterbukaan, nilai-nilai Islam dipaksa bernegosiasi dengan budaya populer yang miskin arah moral. Inilah krisis paling sunyi, tetapi paling berbahaya krisis yang bekerja perlahan, nyaris tanpa disadari.

Krisis generasi yang kita hadapi hari ini bukan sekadar soal jarak usia, melainkan soal absennya ketegasan nilai. Generasi muda kerap dituding sebagai biang masalah moral, sementara generasi tua merasa cukup dengan nostalgia keteladanan masa lalu tanpa pembaruan pendekatan pendidikan. Akibatnya, dialog antar generasi kehilangan makna substantif dan bergeser menjadi ruang saling menyalahkan yang tidak produktif.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, generasi muda hidup dalam banjir informasi yang tidak diiringi dengan kecukupan filter nilai. Media sosial tidak lagi sekadar sarana komunikasi, tetapi telah menjelma menjadi otoritas baru dalam menentukan standar kebenaran, moralitas, bahkan identitas diri. Apa yang viral dianggap normal, apa yang populer diasumsikan benar. Dalam kondisi seperti ini, iman dan akhlak menjadi aspek yang paling rentan terdegradasi. Ironisnya, sistem sosial kita lebih sibuk mengejar adaptasi teknologi ketimbang membangun ketahanan moral.

Lebih jauh, peran keluarga khususnya ibu dan calon ibu kerap direduksi sebatas fungsi domestik atau simbolik. Padahal, keluarga adalah madrasah pertama, dan ibu adalah pendidik nilai paling awal dan paling menentukan. Ketika peran strategis ini diabaikan, pembentukan karakter generasi diserahkan sepenuhnya kepada ruang publik yang bebas nilai dan kepentingan. Ini bukan sekadar kelalaian individu, melainkan kegagalan kolektif dalam menjaga estafet peradaban.

Sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kami memandang bahwa krisis generasi hari ini sejatinya adalah krisis tanggung jawab. Pembangunan manusia tidak dapat diukur semata dari prestasi akademik, kecakapan teknologi, atau kemampuan bersaing di pasar kerja. Ukuran sejatinya terletak pada sejauh mana iman dan akhlak tetap menjadi fondasi utama. Tanpa itu, kemajuan hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.

Oleh karena itu, ruang-ruang intelektual dan spiritual harus kembali dihidupkan sebagai ruang penyadaran, bukan sekadar agenda seremonial. Ruang inilah yang memungkinkan generasi tua dan generasi muda bertemu dalam kesadaran nilai yang sama saling mengoreksi, saling belajar, dan saling menguatkan. Perbedaan cara pandang semestinya menjadi sumber dialektika yang mencerahkan, bukan alasan untuk berjarak apalagi berkonflik.

Pada akhirnya, masa depan umat tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita mengikuti arus perubahan zaman, melainkan oleh keberanian kita menjaga amanah iman di tengah tekanan perubahan tersebut. Jika tanggung jawab ini diabaikan, maka yang kita wariskan kepada generasi mendatang bukanlah peradaban yang berakar pada nilai, melainkan kebingungan moral yang kehilangan arah.

*Penulis: Aktifis HMI

*Editor: Fen/Rinjanipost

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button