Headline NewsKota BimaLingkungan HidupPemerintahan

Cabai dan Tomat Tekan Dunia Usaha, Pemkot Bima Siapkan Solusi Berbasis Rumah Tangga

(Rinjanipost) – Pemerintah Kota Bima terus berupaya menekan laju inflasi daerah yang kerap dipicu oleh lonjakan harga komoditas pangan, khususnya cabai dan tomat. Salah satu strategi yang dijalankan adalah mendorong kemandirian pangan masyarakat melalui program satu rumah satu polybag.

Kepala Dinas Kominfotik Kota Bima, Muhammad Hasim, mengungkapkan bahwa inflasi di Kota Bima sering muncul pada momentum tertentu, terutama saat pasokan cabai dan tomat terganggu. Namun, dampaknya lebih dirasakan oleh sektor usaha dibanding rumah tangga.

“Untuk kebutuhan rumah tangga sebenarnya tidak terlalu terasa. Yang paling terdampak justru dunia usaha, khususnya UMKM kuliner, karena cabai dan tomat merupakan bahan utama,” kata Hasim.

Ia menjelaskan, pertumbuhan UMKM di Kota Bima yang cukup pesat, sekitar 0,7 persen per bulan, menyebabkan kebutuhan cabai dan tomat semakin tinggi. Kondisi ini membuat fluktuasi harga komoditas tersebut berpengaruh langsung terhadap biaya produksi pelaku usaha.

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Bima telah menyalurkan bibit cabai, tomat, dan sayuran ke sejumlah kelurahan, sekolah, serta beberapa organisasi perangkat daerah (OPD). Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan pasar.

“Kalau program ini berjalan masif dan benar-benar dimanfaatkan, paling tidak kebutuhan dasar rumah tangga bisa diselesaikan sendiri,” ujarnya.

Namun demikian, keterbatasan anggaran menjadi tantangan serius. Hasim mengakui bahwa pemotongan anggaran daerah berdampak pada tertundanya sejumlah program prioritas.

“Dari kebutuhan sekitar Rp1,2 triliun, anggaran kita terpangkas cukup besar dan sebagian besar hanya cukup untuk belanja pegawai. Banyak program terpaksa ditunda sambil kita mencari sumber pendanaan lain, baik dari provinsi maupun pusat,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima, Sukarno, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tetap diarahkan pada konsep berbasis masyarakat dan potensi lokal. Menurutnya, sejumlah destinasi wisata di Kota Bima masih alami dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

“Kami membuka ruang bagi masyarakat untuk mengelola potensi wisata di wilayahnya masing-masing. Yang penting memberi manfaat ekonomi dan tidak merusak lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Kabid Ketersediaan dan Stabilitas Pangan, Masita, menyampaikan bahwa pemerintah daerah juga terus menjaga stok pangan strategis. Saat ini, cadangan beras pemerintah daerah tercatat sekitar 10 ton per tahun sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga.

Selain itu, pihaknya rutin turun ke lapangan untuk memantau kondisi pangan di tingkat kelurahan serta mendorong pemanfaatan lahan pekarangan sebagai percontohan ketahanan pangan.

Pemkot Bima berharap, melalui sinergi program pangan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat seperti Desa Berdaya, tekanan inflasi dan persoalan kemiskinan dapat ditangani secara bersama-sama dan berkelanjutan. (Fen)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button