SMAN 9 Mataram Terima 396 Siswa Baru, Kepala Sekolah Dorong Revitalisasi Menyeluruh Fasilitas Pendidikan
Rinjani Post– SMA Negeri 9 Mataram kembali menjadi salah satu sekolah negeri favorit di Kota Mataram. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut akan menerima sebanyak 396 siswa baru yang terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel).
Kepala SMA Negeri 9 Mataram, Nengah Istiqomah, mengatakan jumlah penerimaan peserta didik baru tahun ini tetap mengacu pada kuota yang telah ditetapkan pemerintah.
“Untuk tahun ini kami menerima 396 siswa yang terbagi dalam 11 kelas. Jumlah rombelnya sama seperti tahun sebelumnya,” kata Nengah Istiqomah di Mataram, Senin (15/6/2026).
Keterbatasan Ruang Kelas
Meski minat masyarakat untuk bersekolah di SMA Negeri 9 Mataram terus tinggi, Nengah mengakui sekolah belum dapat menambah jumlah rombel karena keterbatasan sarana dan prasarana.
Menurutnya, kondisi ruang belajar yang tersedia saat ini belum memadai untuk menampung lebih banyak siswa. Keterbatasan ruang tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat sekolah harus menyesuaikan jumlah penerimaan peserta didik baru.
“Kalau fasilitas ruangannya memadai tentu peluang untuk menambah kapasitas bisa dipertimbangkan. Namun saat ini kami masih menghadapi keterbatasan ruang belajar,” ujarnya.
Harapan Besar pada Program Revitalisasi Sekolah
Nengah menilai SMA Negeri 9 Mataram layak menjadi prioritas dalam program revitalisasi sekolah yang saat ini menjadi salah satu agenda nasional pemerintah di sektor pendidikan.
Ia mengusulkan pembangunan gedung bertingkat hingga tiga lantai pada sejumlah blok bangunan sekolah agar kapasitas dan kualitas layanan pendidikan dapat meningkat secara signifikan.
Menurutnya, revitalisasi tidak hanya menyangkut penambahan ruang kelas, tetapi juga pembenahan wajah sekolah secara menyeluruh agar mampu menjawab kebutuhan pendidikan modern.
“Kalau semua bangunan bisa direvitalisasi menjadi tiga lantai, kebutuhan ruang kelas akan terpenuhi. Bahkan sekolah bisa memiliki fasilitas pendukung seperti aula yang representatif, perpustakaan modern, ruang aktivitas siswa, hingga area terbuka yang lebih nyaman,” jelasnya.
Infrastruktur Sekolah Perlu Pembenahan
Selain keterbatasan ruang, SMA Negeri 9 Mataram juga masih menghadapi sejumlah persoalan infrastruktur yang membutuhkan perhatian pemerintah.
Salah satunya adalah kondisi atap beberapa bangunan yang masih menggunakan material spandek, termasuk pada area yang berada di atas laboratorium sekolah.
Saat musim hujan, kondisi tersebut dinilai berisiko karena air dapat masuk ke area laboratorium yang memiliki instalasi listrik dan berbagai perangkat pembelajaran.
“Kami khawatir jika hujan deras karena ada laboratorium di bawahnya. Faktor keselamatan tentu menjadi perhatian utama,” katanya.
Tak hanya itu, instalasi listrik di sejumlah gedung sekolah juga dinilai sudah tidak optimal. Gangguan listrik masih kerap terjadi dan mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar.
“Kadang di satu sisi gedung listrik menyala, sementara di sisi lain mati. Kondisi seperti ini tentu perlu penanganan yang lebih menyeluruh,” ungkap Nengah.
Dukungan Orang Tua Jadi Kekuatan SMA 9
Di tengah berbagai keterbatasan fasilitas, SMA Negeri 9 Mataram tetap mampu mencatatkan berbagai kemajuan, termasuk dalam penerapan digitalisasi sekolah.
Nengah menegaskan keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan dan partisipasi aktif para orang tua siswa yang selama ini ikut bergotong royong membantu pengembangan sekolah.
Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi modal penting dalam menjaga kualitas layanan pendidikan.
“Kalau bicara digitalisasi dan berbagai pengembangan yang sudah berjalan di SMA 9, itu tidak lepas dari dukungan orang tua. Mereka ikut berpartisipasi dan bergotong royong demi kemajuan sekolah,” ujarnya.
Perlu Atensi Pemerintah Daerah
Sebagai sekolah negeri yang berada di pusat Kota Mataram, Nengah berharap Pemerintah Provinsi NTB dapat memberikan perhatian lebih terhadap pengembangan SMA Negeri 9 Mataram. (Fend)



